← WIRESdesk Indonesia
Iklim / Karhutla

Api gambut bisa merambat di bawah tanah: ini yang sebenarnya terjadi

Ketika gambut mengering, bahan organik di dalam tanah dapat membara tanpa nyala besar di permukaan. Karena itu api bisa tampak padam lalu muncul kembali di tempat lain.

Kebakaran gambut berbeda dari gambaran umum tentang api hutan yang menyala tinggi di atas permukaan. Gambut adalah akumulasi bahan tumbuhan yang terurai sebagian dan menyimpan banyak karbon. Dalam keadaan normal ia basah. Setelah periode kering panjang, lapisan itu dapat kehilangan cukup air untuk ikut terbakar.

Yang kemudian terjadi sering berupa pembakaran membara, bukan kobaran besar. Bahan organik panas bereaksi perlahan dengan oksigen dan menghasilkan bara yang dapat bertahan di pori-pori tanah. Dari permukaan, area tertentu bisa terlihat hanya berasap tipis atau bahkan tampak tenang, sementara panas masih aktif di bawahnya.

BMKG secara eksplisit memperingatkan bahwa pada kondisi atmosfer kering, kebakaran dapat bertahan lebih lama terutama di lahan gambut karena api dapat menjalar ke lapisan bawah permukaan tanah. Inilah alasan ungkapan 'api berjalan di bawah tanah' dipakai: bukan sebuah lidah api bergerak di terowongan kosong, tetapi front pembakaran merambat melalui bahan organik kering di dalam tanah.

Kecepatan rambatnya umumnya tidak secepat kepala api di padang rumput yang didorong angin, tetapi justru ketahanannya yang menjadi masalah. Bara dapat bertahan lama, mengeringkan area di depannya dan kembali menghasilkan nyala ketika bertemu akar, serasah atau vegetasi yang lebih mudah terbakar.

Situasi ini juga menjelaskan mengapa 'tidak ada nyala' bukan bukti bahwa kebakaran gambut telah selesai. Petugas melakukan pembasahan dan pendinginan untuk menurunkan panas di dalam lapisan, bukan hanya memadamkan api yang terlihat. BNPB berulang kali mencatat fase pendinginan setelah pemadaman lapangan karena titik panas tersembunyi dapat memicu kebakaran ulang.

Ada risiko lain: gambut yang terbakar kehilangan volume dan kekuatan. Permukaan dapat runtuh atau memiliki rongga panas. Karena itu pendekatan warga seharusnya bukan masuk ke area yang tampak padam untuk memeriksa sendiri, melainkan mengikuti pembatasan petugas dan melaporkan asap atau panas yang muncul kembali.

Asap dari pembakaran membara juga dapat berlangsung lama. Karena pembakaran tidak sempurna, emisinya dapat mengandung partikel halus dan gas berbahaya. Dampaknya tidak berhenti di lokasi kebakaran: arah dan kecepatan angin menentukan ke mana kabut asap dibawa.

Cara paling sederhana membayangkannya adalah seperti bara di dalam tumpukan bahan organik yang sangat besar. Bagian luar bisa gelap dan tidak menyala, tetapi bagian dalam tetap panas. Pada lahan gambut yang kering, tumpukan itu adalah tanahnya sendiri.

Sumber

Lanjutkan wire ini

1.637 lokasi lebih dari 60 hari tanpa hujan: mengapa risiko karhutla Indonesia naik sekarang

BMKG mencatat 81% zona musim telah masuk kemarau dan 1.637 lokasi mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan. Kondisi kering memperbesar peluang karhutla bertahan dan meluas.

Hotspot satelit bukan peta api sempurna: cara membaca titik panas BMKG

VIIRS, MODIS dan Himawari mendeteksi anomali panas. Hotspot sangat berguna untuk menemukan kebakaran, tetapi awan dan keterbatasan sensor dapat membuat sebagian kejadian tidak terlihat.

Asap karhutla tidak hanya mengganggu pandangan: PM2.5 adalah ancaman kesehatan utama

Kementerian Kesehatan memperingatkan paparan PM2.5, karbon monoksida dan polutan lain dari asap karhutla. Anak, lansia, ibu hamil dan pasien komorbid termasuk kelompok paling rentan.